Kami sepakati sebelumnya bahwa Upacara Ngidih di Samu akan diadakan pukul 14 wita. Sekitar jam 12, keluarga besar saya sudah balik pulang ke Tegehsari-Padangsambian, sambil menunggu keluarga besar (sekaan mangku) yang akan turut dalam upacara Ngidih ini. Sedangkan saya dan Ayu berangkat langsung dari Sanur menuju Samu, dengan diantar oleh Bli Made Dira. Sekitar 25 menit perjalanan, kami telah tiba di Samu. Karena tiba lebih awal, Ayu masih sempat dipijit oleh Ibunya, karena masuk angin. Karena pakai baju brokat yang banyak bolongnya, jadi masuk angin deh :)
Sekitar pukul 13.30, rombongan keluarga besar saya tiba di Samu. Keluarga besar Ayu juga cukup banyak yang hadir. Para ibu segera menyiapkan banten canang Pangeraos dan perlengkapannya. Setelah dihaturkan oleh Pemangku/Pinandita, pembicaraan antar keluarga pun dimulai. Pihak keluarga saya, yang diwakili oleh Pak Wayan Sudiasa, menyampaikan tujuan kedatangan kita untuk meminang dan memboyong Ayu pada hari tersebut. Dari pihak keluarga Ayu, Pak Ketut Sardika menerima dengan baik semuanya. Para orang tua juga memberikan nasihat-nasihat kepada kami berdua. Saat itu kami membawa Kleian Adat/Dinas dari Banjar Tegehsari-Padangsambian Kaja, namun kelian Samu tidak bisa hadir karena saat itu banyak berbarengan warganya yang menikah. Sehingga diputuskan, untuk penandatangan surat-surat pernikahan akan dilakukan tgl 5 Oktober 2008, di hadapan kedua Kelian.
Selesai acara Ngidih tersebut, kami sembahyang di Sanggahnya Ayu, berdoa kepada Tuhan semoga pernikahan kami diberkati dan memohon izin kepada leluhurnya untuk memboyong Ayu ke rumah saya. Karena hari sudah beranjak sore, kami segera berpamitan dan menuju ke rumah saya di Padangsambian.
Sekitar pukul 17 wita, kami sudah tiba di rumah. Tampak beberapa keluarga dari Samu juga turut mengantar Ayu. Kami tak boleh langsung masuk ke rumah, karena ada upacara yang harus dilakukan dulu di pintu masuk rumah. Kami harus menunggu sekitar 30 menit kehadiran Pemangku/Pinandita yang akan menghaturkan banten tersebut. Selesai upacar tersebut, kami memasuki rumah dan suasana sudah mulai redup. Di halaman rumah sudah ditata rapi banten Mabyekala yang cukup besar. Kami natab banten Pabyekala di halaman rumah, yang dipimpin Pemangku Pak Gede Suda. Di bagian akhir, ada kalanya saya harus menyelipkan keris di pinggang sambil memikul cangkul, sedangkan Ayu membawa sok berisi berbagai hal di kepalanya. Konon hal ini menyimbulkan betapa beratnya kehidupan berumah tangga. Kemudian berbagai tanaman: endong, kunyit, keladi yang ada di dalam sok kita bawa ke sanggah dan ditanam di belakang Sanggah kemulan. Sampai saat ini tanaman ini masih hidup. Saat tersebut suasana sudah gelap sehingga menyulitkan bagi yang mengambil gambar video.
Setelah beramah tamah dan makan malam, keluarga dari Samu segera berpamitan pulang, mengingat jarak yang cukup jauh, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Mulai hari itu, secara adat Bali kami telah resmi menjadi suami istri, dengan ditandai adanya upacara Mabyekala, sedangkan secara Veda ditandai dengan upacara Agnihotra. Namun puncak upacara Pernikahan kami akan dilakukan pad atgl 5 Oktober 2008.
Monday, 30 March 2009
Upacara Ngidih (Meminang) dan Nyuwang (Boyongan) 1 Oktober 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment