Selesai upacara pernikahan yang melelahkan, tapi membahagiakan..., kami kembali ke kehidupan normal. Saya harus segera kembali kerja seperti biasa, karena jatah cuti yang tak banyak. Ayu, karena belum bekerja, banyak berada di rumah, belajar beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan di rumah.
Sebelumnya, hanya beberapa hari sebelum menikah, Ayu mendapat panggilan beasiswa S3 di India. Awalnya kami bingung juga, apakah saya harus mengizinkan Ayu segera berangkat sekolah lagi ke India, atau bagaimana? Sedangkan kami baru saja menikah. Bahkan pada saat Agnihotra, Prof Amarjiva, yang akan jadi dosennya nanti, meminta kepada saya supaya mengizinkan Ayu kuliah lagi. Beliau bahkan menjanjikan, untuk membantu Ayu sepenuhnya, dan hanya cukup 2 bulan saja di India, selanjutnya penelitian bisa dilakukan di Bali. Saya pun menyetujuinya saat itu. Tapi kemudian, setelah Ayu mempertimbangkannya, dia tidak tega meninggalkan saya dan tidak jadi mengambil beasiswa S3 tersebut. Saya bilang pada Ayu, untuk ikut test beasiswa lagi nanti, setelah anak kita agak besar.
Seperti pada umumnya, kehidupan penganten baru kami berjalan dengan baik dan bahagia. Kami memilih honeymoon di Bali seperti para artis ibukota...haha. Tapi tentu saja, kami juga pernah berantem. Anehnya karena tanpa alasan yang jelas. Hari yang aneh...:))
Penantian para penganten baru selanjutnya adalah menunggu kehadiran sang bayi. Demikian pula kami. Ayu mempunyai siklus haid yang sangat tepat, sehingga dengan mudah kami bisa menghitung kapan masa suburnya. Pada saat upacara Agnihotra 1 Oktober 2008, pas baru seharinya Ayu selesai haid. Kami pun tunggu dengan sabar masa subur di bulan Nopember. Ternyata...saat masa subur bulan Nopember, saya harus berada di Jakarta, mengikuti pelatihan dari kantor. Yah.....ternyata Tuhan meminta kami harus bersabar lagi.:)
Kami pun mulai menghitung lagi, kapan masa subur di bulan Desember 2008. Saat kita hitung masa suburnya, dengan toleransi maju mundur selama 2-3 hari, ternyata adanya di awal-awal bulan Desember. Namun ternyata....di kantor ada pekerjaan yang mengharuskan saya dan teman-teman lainnya harus sering lembur di malam hari. Awalnya kami agak pesimis juga. Tapi kami selalu berdoa pada Tuhan, semoga kami segera mendapatkan seorang anak yang baik.
Beberapa hari berlalu seperti biasa, kami tak berani terlalu banyak berharap, supaya tak jadi kecewa berlebihan. Kami pasrahkan pada Tuhan dan berdoa supaya diberi yang terbaik. Setiap ketemu teman atau kerabat, biasanya mereka selalu bertanya: "Sudah hamil belum?" Pertanyaan yang wajar pada penganten baru. Kami selalu jawab "Belum", sambil senyum saja.
Pada tanggal ....xxx... Ayu ke rumah Bi Tut di Muding Mekar - Kerobokan, bersama Mamak, untuk bantu-bantu karena mau ada suatu upacara. Sekitar jam 10 pagi, saat mau minum teh yang disuguhkan, Ayu bilang merasa pusing dan mual, sehingga tak bisa minum teh. Bi Tut bilang, "Wah, kalau suka pusing mual saat pagi menjelang siang, lalu saat siang menjelang sore, itu tandanya positif. Coba lihat nanti sore, apakah ada pusing mual lagi!" Ternyata benar, sekitar jam 16, saat sudah di rumah, Ayu merasa pusing mual lagi, sekitar sejam, kemudian balik normal lagi. Kami jadi berfikir, hmm...jangan-jangan ini memang positif?? Segera besoknya saat kami belanja ke Tiara Grosir, kami beli Sensitif, alat uji kehamilan. Esok paginya, saat bangun tidur, Ayu bawa sensitif ke kamar mandi. Sesaat kemudian, sambil berteriak dia bilang, "Beneran positiff....:)" Kami pun berpelukan bahagia, sambil mengucapkan puji syukur pada Tuhan.
Tuesday, 31 March 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment