Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Monday, 30 March 2009

Upacara Agnihotra 1 Oktober 2008 di Center Meditasi Angka Denpasar

Kami telah sepakati sebelumnya bahwa Upacara Agnihotra pernikahan kami akan dilakukan Rabu, 1 Oktober 2008 (bertepatan dengan hari raya Lebaran) jam 8 pagi di Center Meditasi Angka Denpasar (Padanggalak-Sanur).

Berbagai persiapan telah dilakukan. Minggu 28 September 2008, kita meminta bantuan para saudara dan tetangga terdekat untuk membuat tetaring di rumah. Tetaring adalah atap peneduh halaman rumah yang dibuat dari tiang-tiang bambu dan atapnya dari kelangsah (daun kelapa yang dianyam). Kelangsah ini kita beli di daerah Blumbungan, Darmasaba, Badung Utara. Kalau zaman dulu, saat pohon kelapa masiih ada banyak, kelangsah ini kita anyam sendiri, dengan meminta bantuan para kerabat dan tetangga, karena jumlah yang dibutuhkan sangat banyak. Di halaman rumah paman sebelah Barat juga diisi tetaring, karena di sana direncanakan untuk tempat para undangan menikmati makanan.

Selasa 30 September 2008, di rumah, para ibu sibuk membuat banten/sesajen untuk upacara Mabyekala/Mekala-kala keesokan sorenya. Kita juga meminta bantuan para Bibi dan ibu-ibu tetangga terdekat. Ternyata banten Mabyekala zaman sekarang cukup besar dan lengkap. Beda dengan penuturan zaman dulu yang bantennya sedikit sekali.

Siangnya saya menuju Center di Padanggalak untuk melihat persiapan di sana. Saat itu beberapa teman sedang menjalin bunga gumitir yang akan dipakai untuk menghias bangunan tempat Agnihotra akan dilakukan esok harinya. Ternyata hiasan yang dibuat cukup banyak, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat dan memasangnya. Kita jug amembuat hiasan paku pipid (hiasan dari janur yang digantung di tali untuk menghiasi bagian atas bangunan). Sore harinya tiba 2 buah hiasan janur yang sangat cantik, diletakkan di kiri kanan pintu masuk Akhanda Dhuna (bangunan tempat api suci) dan beberapa tamiang (hiasan dinding dari janur dan bunga yang umumnya berbentuk lingkaran). Kursi tamu dan tenda juga tiba sore itu.

Ternyata persiapan kita sampai malam. Malam itu Ayu dan Dewi membuat beberapa garlan (kalungan bunga), ada 2 pasang garlan untuk penganten, untuk pemimpin upacara, dan undangan terhormat. Hampir sampai tengah malam baru persiapan kelar.

Rabu, 1 Oktober 2008.

Pagi jam 07 wita, para kerabat dan tetangga terdekat sudah mulai tiba di rumah, untuk turut serta menghadiri upacara Agnihotra di Padanggalak-Sanur. Setelah disuguhi minuman dan kue, kami segera berangkat, karena kita rencanakan jam 8 pagi upacara dimulai. Hampir 30 menit perjalanan, kami sekeluarga besar tiba di Center Meditasi Angka Denpasar. Tampak sudah banyak orang di sana, keluarga Ayu dan teman-teman kami sudah banyak yang hadir. Tampak Center sangat indah dengan berbagai hiasannya.

Saya segera mengganti pakaian di kamar pria. Pakaian Agnihotra untuk penganten pria sangaaat sederhana. Hanya 2 selembar kain putih untuk kamen dan selendang. Bahkan kain itu tak boleh ada jahitannya. Karena tak bisa memakai kain ala India, saya dibantu oleh Pande untuk memakaikannya. sebenarnya mirip dengan kamenya pria Bali, hanya saja kancut (ujung kain) dibawa ke belakang melewati selangkangan dan ujungnya diselip di pinggang. Kontras dengan pakaian penganten wanita, mereka memakai pakaian dan perhiasan yang sebanyak-banyaknya.

Hotri (pemimpin upacara) saat itu adalah Prabu Suresh dan pembantu hotri adalah Adideva. Mereka telah menyiapkan segala keperluan upacara dan sudah memulai upacara. Saya dan Bli Wismagiri dipanggil untuk datang ke tempat Agnihotra. Hotri memulai upacara dengan membacakan banyak doa dan mantra. Kemudian kedua mempelai wanita juga tiba, dengan memakai pakain serba merah, dengan wajah yang ditutupi cadar. Nantinya mempelai pria membuka cadar penganten wanita, lalu penganten wanita memakaikan garlan kepada calon suaminya.

Hotri memimpin upacara dan memandu kami, apa-apa saja yang harus dilakukan. Seluruh upacara berlangsung dengan khusuk. Terdengar pembacaan kekawin Bhagawad Gita oleh Bapak dan Ibunya Pande, menambah suasana rohani. Keluarga besar saya tampak antusias melihat upacara Agnihotra ini, karena umumnya mereka baru pertama kali ini melihatnya. Temen-temen pe-Meditasi Angka juga tak kalah antusias, karena ini pertama kalinya upacara Agnihotra pernikahan dilakukan di Center Denpasar. Yang tak kalah membahagiakan, saat upacara berlangsung, hadir juga Guru Darmayasa yang baru semalamnya tiba dari Jakarta, bersama Prof. Amarjiva dari India. Di akhir upacara, para penganten memohon berkah dari Guru Darmayasa, yang juga diikuti oleh semua yang hadir.

Berikutnya ada sedikit upacara seremonial yang dipandu oleh MC dadakan, Pak Aris Widyastana. Pihak keluarga saya memberikan sambutan yang disampaikan oleh Bli Nyoman Merta, sedangkan dari pihak keluarga wanita oleh Pak Ketut Sardika. Guru Darmayasa juga diminta memberikan wejangannya. Beliau memberikan wejangan sambil duduk di teras Dhuna Guru. Beliau menyampaikan tentang makna upacara perkawinan dan pentingnya untuk mempunya anak yang su-putra.

Acara selanjutnya adalah makan siang dan ramah tamah. Nasi kotak vegetarian saat itu yang dibuat oleh Mbok Witri, diakui enak oleh teman-teman. Kami tak bisa berlama-lama di Center, karena jam 13 kita akan melakukan upacara Ngidih di Samu-Batubulan. Kami para penganten segera berganti pakaian dengan pakaian adat Bali lagi. Bahkan saat itu temen-temen udah mulai bongkar tenda dan mengangkut kursi-kursi ke atas, ke jalan raya. Wah.. mereka jadi mandi keringat semua. Terima aksih yang sebesar-besarnya pada seluruh teman-teman yang telah membantu upacara ini.

No comments:

Post a Comment