Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Toko Online terpercaya www.iloveblue.net
Toko Online terpercaya www.iloveblue.net

Friday, 6 March 2009

Melamar ke Sulawesi Selatan plus 12 jam Naik Bus Malam



Akhir Agustus 2008 dia berangkat duluan, sendirian, ke kampung halamannya di daerah Kertaraharja, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sedangkan saya berangkat belakangan, karena harus mengajukan cuti dulu di tempat kerja.

5 September 2008, saya bersama Ibu dan Bapak saya berangkat ke Sulawesi naik Lion yang berangkat pagi hari. Sekitar jam 11 siang kami tiba di bandara Makasar yang baru dan masih pengerjaan saat itu. Awalnya kami diinfokan bahwa kami akan ada yang menjemput. Begitu keluar Bandara, kami masih belum tahu siapa yang akan menjemput, karena nelpon ke Ayu susah sekali, di rumahnya sangat susah dapet sinyal hp (bahkan semua operator). Akhirnya kami didatangi oleh seorang Ibu sambil berkata, "Adi ya?" Ternyata beliau adalah Tante Enceng yang menjemput kami bersama Bli Kadek (sepupunya Ayu). Tante Enceng yang super ruame kemudian mengajak kami ke rumahnya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan sorenya dengan bus malam.

Di rumah Tante kami disuguhi banyak makanan, karena beliau emang suka dan pinter masak. Ada brownis vegetarian yang enak, dll. Lalu kami diajak makan siang, dengan menu vegetarian yang semuanya enak. Di sana juga ada Pak Wayan Tawa (omnya Ayu) yang juga akan ikut pulang ke Kerta. Siangnya datang Om Komang Mahawira (omnya Ayu) dari kantor. Kami ngobrol banyak, beliau banyak menceritakan tentang kisah hidupnya sejak kecil.

Sore harinya, kami diantar ke tempat bus malam untuk menempuh 12 jam perjalanan lagi. Karena agak telat memesan tempat (karena sejak siang ditelpon tidak bisa nyambung), akhirnya kami dapat tempat duduk paling belakang. Selama 12 jam perjalan berikutnya lumayan bikin pinggang pegel.

Pagi hari kita tiba di jalan menuju Kerta. Kami dijemput dengan mobil. Sekitar 2 km, kami tiba di rumah Ayu. Kami disambut oleh Bapak dan Ibunya Ayu. Kemudian semua ngobrol beramah tamah di rumah yang penuh dengan tanaman dan bunga-bunga. Karena masih capek dalam perjalanan, kita istirahat dulu dan malam harinya akan diadakan pembicaraan antara kedua ortu kami. Dalam pembicaraan tersebut, yang hanya dihadiri hanya dari kedua keluarga kami saja, hampir semuanya berjalan lancar. Namun ada permintaan ortu Ayu yang tak bisa dipenuhi oleh ortu saya, yaitu tentang penggunaan banten upacara pernikahan yang tanpa menggunakan daging. Ortu saya tidak bis amemenuhi ini karena di masyarakat asal saya belum biasa menggunakan ini dan kami takut tidak didukung oleh masyarakat sekitar.

Esok paginya, Ayu mengajak kami sembahyang ke Pura di Palopo. Ternyata perjalananya cukup jauh. Sepanjang perjalanan kami melihat-lihat pemandangan tanah Sulawesi yang tumben kami datangi. Sayangnya selama perjalanan turun hujan lebat, sehingga saya tak bisa mengambil banyak foto. Dalam perjalanan kami juga melewati lokasi penambangan PT Inco, wahh luasnya, beberapa bukit mereka tambangi. Kami juga mampir ke Danau...yang airnya sangat jernih. Tapi karena masih hujan rintik-rintik, kami tak jadi mandi. Kemudian kami ke Pura yang dekat dengan Danau tersebut. Bangunan Puranya khas Bali. Tampak juga beberapa karyawan PT Iinco yang sudah selesai sembahyang. Kemudian saya sekeluarga sembahyang, sedangkan Ayu menunggu di luar karena sedang datang bulan. Dalam perjalanan pulang kembali hujan lebat. Hampir sore baru kami tiba kembali di rumah.

Malam harinya beberapa kerabat Ayu berdatangan karena memang diundang untuk acara Lamaran malam itu. Mungkin ada sekitar 25 orang tamu yang hadir. Kembali ortu saya menyampaikan Lamaran seperti malam sebelumnya, kepada keluarga besar Ayu. Semuanya berjalan lancar dan beberapa orang memberikan nasihat-nasihat kepada kami. Mereka sebagaian besar lucu-lucu, sehingga pertemuan tersebut penuh canda tawa.

Keesokan paginya saya dan Ayu pergi ke Luwu untuk mencari warnet. Ternyata warnetnya tutup. Kemudian kita menyusuri perjalanan jauh dengan naik sepeda motor, untuk melihat-lihat alam Sulawesi. Jalannya berkelok di pegunungan, konon jalan itu menuju ke Sulawesi Tengah. Kami singgah di sebuah air terjun, mungkin sebelumnya dicoba menjadi obyek wisata, tapi sekarang gak terlalu terawat. Mungkin airnya mengandung belerang, sehingga batuan di sana berwarna putih kekuningan. Kami berusaha mencari anggrek hutan, tapi karena semuanya tinggi-tinggi nempel di pohon, tak bis akami jangkau. Kami melanjutkan lagi perjalanan, sambil melihat-lihat jika ada yang menjual anggrek di pinggir jalan. Memang ada beberapa rumah yang menjual anggrek di halaman rumahnya, tapi semuanya sedang tidak berbunga, mungkin gak musimnya. Kami teruskan lagi perjalanan sampai menemukan anggrek tanah yang berwarna merah dan putih. Kami ambil beberapa untuk ditanam di rumah Ayu. Karena sudah siang dan jauh, kami balik pulang. Di perjalanan pulang, kami istirahat sebentar di pinggir sungai yang lebar dan mungkin ada buayanya. Maunya sih nyari batu-batu sungai yang bagus-bagus, tapi ternyata susah dijangkau. Akhirnya kami balik ke rumah dan menanam anggrek tanah tersebut.

Sore tersebut kami berkemas karena harus segera balik ke Makasar. Kami diantar menuju rumah Pak Ketut Laba, menunggu bis malam di sana. Setelah pamitan, kami naik bis menuju Makasar. Esok paginya tiba di Bandara Makasar, langsung menuju Denpasar dengan naik pesawat Garuda. Sekitar jam 13 kami sudah tiba kembali di rumah di Denpasar. Puji syukur pada Tuhan bahwa acara lamaran ini berjalan selamat dan lancar.

No comments:

Post a Comment