Betapa bahagianya kami melihat hasil test dengan Sensitif, tapi untuk memastikannya, kami ingin memeriksakannya ke dokter. Pertama kali, kami coba untuk ke dokter kandungan di RS Kasih Ibu, tempat tanggungan kesehatan dari tempat kerja. Saya pernah lihat plang nama RS Kasih Ibu di Dalung, kami akan coba ke sana karena lebih dekat dari rumah, dibandingkan dengan RS Kasih Ibu di Jl Teuku Umar. Karena plang namanya ada di ujung Barat Jl Gatsu Barat ke arah Utara, saya pun belok ke Utara, menyusuri Jl Tegal jaya, sambil lihat kiri kanan. Ternyata sampai cukup jauh, juga tak ada, saya telpon RS Kasih Ibu Teuku Umar. Kami diinfokan bahwa lokasinya di Perumahan Dalung. Kenapa gak nelpon dari tadi yah...hehe.
Setelah balik arah dan belok ke Perumahan Dalung, kami menemukan RS Kasih Ibu ada di sebelah kanan jalan. Setelah registrasi, kami diminta menunggu dokter kandungannya. Setelah diperiksa dokter, dokter bilang, "Selamat, Ibu memang hamil". Wah senang sekali kami mendengar hal itu. Begitu banyak ada pertanyaan yang ingin kami tanyakan/konsultasikan, tapi tampaknya dokter itu sibuk dan diburu-buru waktu, lalu langsung pergi. Saat itu kita putuskan untuk lain kali akan cari dokter lain saja.
Beberapa hari kemudian saya juga cari-cari artikel di internet tentang kehamilan dan seputarnya. Saya copy kan untuk Ayu, untuk dibacanya saat senggang di rumah. Saya juga pergi ke toko Buku Gramedia di Gatsu Timur, belikan 2 buah buku tentang kehamilan yang menurut saya paling bagus dan lengkap, dari buku-buku yang ada di sana. Ayu sangat senang membacanya. Ada buku yang berisikan perkembangan bayi setiap minggunya, berapa ukurannya, bagaimana perkembangannya, apa yang disarankan dan dihindari untuk sang ibu, juga ada saran-saran untuk sang ayah. Menarik sekali.
Dari hasil membaca berbagai sumber, Ayu sangat ingin untuk bisa melahirkan dengan teknik "water birth" yaitu melahirkan di dalam air. Jadi saat si ibu sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, dia akan dimasukkan ke dalam bak yang berisi air hangat, kemudian si bayi akan lahir di dalam bak air tersebut. Teknik masih cukup baru sehingga tidak di banyak tempat/RS/klinik bersalin menyediakan metode ini. Ayu sangat ingin bisa melahirkan dengan teknik Water Birth karena ada banyak keuntungannya, khususnya pada si bayi yaitu:
- Suhu air di dalam bak dibuat sama dengan suhu air ketuban di dalam rahim, sehingga bayi tidak kaget. bandingkan dengan teknik lain yang begitu bayi lahir menghadapi dinginnya ruangan ber-AC, dia akan kaget, dan hal ini tak baik untuk bayi, bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan pada otaknya.
- Si Ibu bisa melahirkan dengan nyaman, karena posisinya sambil berendam, seperti di bathtub, sehingga bisa mengurangi rasa sakit yang diderita. Meskipun ada cara bedah caesar maupun dengan dibius sehingga si ibu tidak sakit, tapi kasihan si bayi seperti alasan di atas.
Setelah cari informasi sana-sini, ternyata di Jln Gunung Sanghyang ada Tempat Bersalin Anugerah yang memasang iklan water birth. Kami pun coba periksa ke sana, bersama dr Dewa Arika. Orangnya baik dan bisa diajak konsultasi, sehingga sampai saat ini kami selalu periksa di sana. Dengan harapan, dokter yang sama selalu memeriksa dari awal, sehingga memudahkan saat persalinan nanti. Bisa tidaknya seorang ibu melahirkan dengan water birth baru bisa diketahui saat kandungan berumur 8 bulan. Juga ada beberapa syarat lainnya bagi si ibu untuk bisa menggunakan water birth seperti: tidak mengalami suatu penyakit, punya pinggul yang lebar, dll. Selengkapnya tentang water birth, bisa ditanyakan pada om Google ;).
Tuesday, 31 March 2009
"Positif...? Terima kasih Tuhan...."
Selesai upacara pernikahan yang melelahkan, tapi membahagiakan..., kami kembali ke kehidupan normal. Saya harus segera kembali kerja seperti biasa, karena jatah cuti yang tak banyak. Ayu, karena belum bekerja, banyak berada di rumah, belajar beradaptasi dengan kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan di rumah.
Sebelumnya, hanya beberapa hari sebelum menikah, Ayu mendapat panggilan beasiswa S3 di India. Awalnya kami bingung juga, apakah saya harus mengizinkan Ayu segera berangkat sekolah lagi ke India, atau bagaimana? Sedangkan kami baru saja menikah. Bahkan pada saat Agnihotra, Prof Amarjiva, yang akan jadi dosennya nanti, meminta kepada saya supaya mengizinkan Ayu kuliah lagi. Beliau bahkan menjanjikan, untuk membantu Ayu sepenuhnya, dan hanya cukup 2 bulan saja di India, selanjutnya penelitian bisa dilakukan di Bali. Saya pun menyetujuinya saat itu. Tapi kemudian, setelah Ayu mempertimbangkannya, dia tidak tega meninggalkan saya dan tidak jadi mengambil beasiswa S3 tersebut. Saya bilang pada Ayu, untuk ikut test beasiswa lagi nanti, setelah anak kita agak besar.
Seperti pada umumnya, kehidupan penganten baru kami berjalan dengan baik dan bahagia. Kami memilih honeymoon di Bali seperti para artis ibukota...haha. Tapi tentu saja, kami juga pernah berantem. Anehnya karena tanpa alasan yang jelas. Hari yang aneh...:))
Penantian para penganten baru selanjutnya adalah menunggu kehadiran sang bayi. Demikian pula kami. Ayu mempunyai siklus haid yang sangat tepat, sehingga dengan mudah kami bisa menghitung kapan masa suburnya. Pada saat upacara Agnihotra 1 Oktober 2008, pas baru seharinya Ayu selesai haid. Kami pun tunggu dengan sabar masa subur di bulan Nopember. Ternyata...saat masa subur bulan Nopember, saya harus berada di Jakarta, mengikuti pelatihan dari kantor. Yah.....ternyata Tuhan meminta kami harus bersabar lagi.:)
Kami pun mulai menghitung lagi, kapan masa subur di bulan Desember 2008. Saat kita hitung masa suburnya, dengan toleransi maju mundur selama 2-3 hari, ternyata adanya di awal-awal bulan Desember. Namun ternyata....di kantor ada pekerjaan yang mengharuskan saya dan teman-teman lainnya harus sering lembur di malam hari. Awalnya kami agak pesimis juga. Tapi kami selalu berdoa pada Tuhan, semoga kami segera mendapatkan seorang anak yang baik.
Beberapa hari berlalu seperti biasa, kami tak berani terlalu banyak berharap, supaya tak jadi kecewa berlebihan. Kami pasrahkan pada Tuhan dan berdoa supaya diberi yang terbaik. Setiap ketemu teman atau kerabat, biasanya mereka selalu bertanya: "Sudah hamil belum?" Pertanyaan yang wajar pada penganten baru. Kami selalu jawab "Belum", sambil senyum saja.
Pada tanggal ....xxx... Ayu ke rumah Bi Tut di Muding Mekar - Kerobokan, bersama Mamak, untuk bantu-bantu karena mau ada suatu upacara. Sekitar jam 10 pagi, saat mau minum teh yang disuguhkan, Ayu bilang merasa pusing dan mual, sehingga tak bisa minum teh. Bi Tut bilang, "Wah, kalau suka pusing mual saat pagi menjelang siang, lalu saat siang menjelang sore, itu tandanya positif. Coba lihat nanti sore, apakah ada pusing mual lagi!" Ternyata benar, sekitar jam 16, saat sudah di rumah, Ayu merasa pusing mual lagi, sekitar sejam, kemudian balik normal lagi. Kami jadi berfikir, hmm...jangan-jangan ini memang positif?? Segera besoknya saat kami belanja ke Tiara Grosir, kami beli Sensitif, alat uji kehamilan. Esok paginya, saat bangun tidur, Ayu bawa sensitif ke kamar mandi. Sesaat kemudian, sambil berteriak dia bilang, "Beneran positiff....:)" Kami pun berpelukan bahagia, sambil mengucapkan puji syukur pada Tuhan.
Sebelumnya, hanya beberapa hari sebelum menikah, Ayu mendapat panggilan beasiswa S3 di India. Awalnya kami bingung juga, apakah saya harus mengizinkan Ayu segera berangkat sekolah lagi ke India, atau bagaimana? Sedangkan kami baru saja menikah. Bahkan pada saat Agnihotra, Prof Amarjiva, yang akan jadi dosennya nanti, meminta kepada saya supaya mengizinkan Ayu kuliah lagi. Beliau bahkan menjanjikan, untuk membantu Ayu sepenuhnya, dan hanya cukup 2 bulan saja di India, selanjutnya penelitian bisa dilakukan di Bali. Saya pun menyetujuinya saat itu. Tapi kemudian, setelah Ayu mempertimbangkannya, dia tidak tega meninggalkan saya dan tidak jadi mengambil beasiswa S3 tersebut. Saya bilang pada Ayu, untuk ikut test beasiswa lagi nanti, setelah anak kita agak besar.
Seperti pada umumnya, kehidupan penganten baru kami berjalan dengan baik dan bahagia. Kami memilih honeymoon di Bali seperti para artis ibukota...haha. Tapi tentu saja, kami juga pernah berantem. Anehnya karena tanpa alasan yang jelas. Hari yang aneh...:))
Penantian para penganten baru selanjutnya adalah menunggu kehadiran sang bayi. Demikian pula kami. Ayu mempunyai siklus haid yang sangat tepat, sehingga dengan mudah kami bisa menghitung kapan masa suburnya. Pada saat upacara Agnihotra 1 Oktober 2008, pas baru seharinya Ayu selesai haid. Kami pun tunggu dengan sabar masa subur di bulan Nopember. Ternyata...saat masa subur bulan Nopember, saya harus berada di Jakarta, mengikuti pelatihan dari kantor. Yah.....ternyata Tuhan meminta kami harus bersabar lagi.:)
Kami pun mulai menghitung lagi, kapan masa subur di bulan Desember 2008. Saat kita hitung masa suburnya, dengan toleransi maju mundur selama 2-3 hari, ternyata adanya di awal-awal bulan Desember. Namun ternyata....di kantor ada pekerjaan yang mengharuskan saya dan teman-teman lainnya harus sering lembur di malam hari. Awalnya kami agak pesimis juga. Tapi kami selalu berdoa pada Tuhan, semoga kami segera mendapatkan seorang anak yang baik.
Beberapa hari berlalu seperti biasa, kami tak berani terlalu banyak berharap, supaya tak jadi kecewa berlebihan. Kami pasrahkan pada Tuhan dan berdoa supaya diberi yang terbaik. Setiap ketemu teman atau kerabat, biasanya mereka selalu bertanya: "Sudah hamil belum?" Pertanyaan yang wajar pada penganten baru. Kami selalu jawab "Belum", sambil senyum saja.
Pada tanggal ....xxx... Ayu ke rumah Bi Tut di Muding Mekar - Kerobokan, bersama Mamak, untuk bantu-bantu karena mau ada suatu upacara. Sekitar jam 10 pagi, saat mau minum teh yang disuguhkan, Ayu bilang merasa pusing dan mual, sehingga tak bisa minum teh. Bi Tut bilang, "Wah, kalau suka pusing mual saat pagi menjelang siang, lalu saat siang menjelang sore, itu tandanya positif. Coba lihat nanti sore, apakah ada pusing mual lagi!" Ternyata benar, sekitar jam 16, saat sudah di rumah, Ayu merasa pusing mual lagi, sekitar sejam, kemudian balik normal lagi. Kami jadi berfikir, hmm...jangan-jangan ini memang positif?? Segera besoknya saat kami belanja ke Tiara Grosir, kami beli Sensitif, alat uji kehamilan. Esok paginya, saat bangun tidur, Ayu bawa sensitif ke kamar mandi. Sesaat kemudian, sambil berteriak dia bilang, "Beneran positiff....:)" Kami pun berpelukan bahagia, sambil mengucapkan puji syukur pada Tuhan.
Monday, 30 March 2009
Upacara Mesakapan (Pernikahan) , Mejauman, Resepsi 5 Oktober 2008
Berbagai persiapan dilakukan menjelang upacara Mesakapan tgl 5 Oktober 2008. Para ibu menyiapkan berbagai banten beserta perlengkapannya, meskipun banten utamanya kita beli di Mbok Nyoman Kerti- Kerobokan, yang masih terbilang kakak mindon saya. Mbok Luh De, Mbok Luh Rai dan seksi konsumsi lainnya, sibuk menyiapkan makanan untuk kondangan adat dan resepsi nanti. Semua menu makanan vegetarian. Hanya saja untuk isi sok pempenan (yang dibawa pulang oleh orang yang kondangan adat) masih menggunakan sate-lawar babi.
Saya dan Ayu sibuk menyiapkan berbagai keperluan lainnya. Maklum, mungkin karena tumben menikah, banyak hal yang baru kita sadari di menit-menit terakhir. Misalnya: kartu Undangan bisa diselesaikan sebelum tgl 1 oktober 2008, atas bantuan AA Wahyu Prayasa untuk membuatkan desain, juga mencetakkannya. Banyak rekan-rekan yang mengatakan bahwa kartu undangan kami bagus. Di bagian depan berisikan foto kami berpakaian adat lengkap di Museum Bali. Sedangkan untuk cover belakang adalah pakaian ala petani Bali, yang di belakangnya ada banyak bebek. Unik, pendapat beberapa teman. Bebek ini juga suatu kebetulan kami temukan di sutu sawah di Blahkiuh-Badung Utara. Memang dari awal kami merencanakan tema petani di sawah. Ternyata di dekat kami bikin foto-foto petani, juga ada kandang bebek. Sekalian deh, kita ajak bebek-bebeknya berpose juga.:) Kita cetak kartu sebanyak 500 bh, ternyata habis, dan banyak juga temen-temen yang komplain karena gak terima kartu undangan. Maaf ya...:( Wahyu juga yang mencetak foto-foto pilihan ukuran besar, yang dipajang sekeliling rumah.
Bahkan, souvenir pernikahan kami, baru kelar tgl 4 Oktober 2008, yang dicetak di percetakan Bali. Hampir kelupaan, H-1 saya baru ingat untuk mengambil souvenir dan itu hari Sabtu, para pegawainya pada libur. Setibanya di Percetakan Bali, kami sempat pusing ke sana kemari mencari souvenir saya, meskipun katanya sudah kelar. Saya sampai beberapa kali naik turun ke lantai 2 bersama pak satpam, tapi gak ketemu juga. Bikin cemas saja nih. Yah ternyata, souvenir sudah diletakkan di dekat pintu di lantai 1. Souvenir pernikahan kami adalah buku saku yang berisikan teknik Meditasi Angka. Covernya depan belakang berisikan foto pre-wedding kami. Kita cetak 500 eksemplar, dan habis juga.
Minggu, 5 Oktober 2008, kami janjian dengan Bu Komang Anggreni yang akan mendandani kami mulai jam 04 subuh. Sebelumnya kami sudah ke rumahnya di Jl Imam Bonjol - Denpasar. Sejak subuh itu, saya dan Ayu mulai di make-up. Bli Putu Arnawa, temen fotografer dari Ubud, juga sudah hadir sejak jam 07 pagi. Dia pun mulai jeprat-jepret saat make-up.
Pukul 08 wita, kerabat dan tetangga terdekat mulai berdatangan. Mereka telah dibagikan tugas dan menempati posisinya masing-masing. Tak lama, para undangan adat mulai berdatangan. Puncaknya ada pada jam 09 - 10 wita. Karena halaman rumah sempit, segera jadi penuh. Bagi tamu undangan yang telah selesai minum dan menikmati snaknya, segera dipersilakan untuk menikmati makan siang di rumah paman sebelah Barat. Demikian seterusnya sehingga kedua halaman rumah ini jadi penuh.
Jam 11 wita, sesuai dengan rencana, Ida Pedanda dari Griya Tampak Gangsul - Denpasar, yang merupakan Pedanda Siwa kita, sudah tiba. Mbok tukang banten dan para ibu segera sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kelangsungan upacara. Para kerabat dan keluarga besar menyaksikan kami natab banten Mesakapan. Prof. Amarjiva juga kembali hadir, lengkap menggunakan pakaian adat Bali, katanya beliau ingin melihat upacara pernikahan orang Bali.
Selesai upacara, kita makan siang bersama, sambil beramah tamah. Kita harus bergegas kembali menuju ke Samu untuk melakukan upacara Mejauman/Megap-gapan, karena telah disepakati jam 14 di Samu. Kali ini rombongan kita lebih banyak lagi, dibandingkan dengan acara 1 Oktober lalu. Saya dan Ayu masih tetap memakai pakaian Payas Agung, yang dikenakan sejak jam 5 pagi. Kasian Ayu merasakan berat di kepalanya, menahan beban banyaknya bunga dan hiasan di kepala.
Setibanya di Samu, sekitar pukul 14, kami segera menyampaikan sesajen/jaja 11 keben, beserta barang bawaan lainnya. Para ibu segera menyusun dan mengaturnya. Para Bapak berkumpul di Bale Daja untuk mengadakan sedikit upacara mebaosan. Kita sempat menunggu agak alama kehadian Bpk Kelian Samu, karena beliau ada upacara juga di tempat lain. Setelah semuanya hadir, pembicaraan formal dilakukan. Tidak banyak yang dibahas, karena sebagaian besar sudah dibicarakan sebelumnya. Beberapa orang tua jugaturut memberi nasihat kepada kami berdua. Kami juga menandatangani form pernikahan di hadapan Bpk Kelian tegehsari dan Kelian Samu.
Selanjutnya kami sekeluarga sembahyang di Sanggah, untuk memohonkan pamit Ayu kepada leluhurnya, karena sekarang dia sudah menjadi orang Padangsambian. Saat itu, beberapa keluarga sudah balik lebih awal, untuk menyiapkan acara resepsi ntar malamnya. Kami pun segera pamitan dari Samu, untuk segera menyiapkan acara resepsi.
Benar saja, jam 17 kami tiba di rumah, sudah ada beberapa undangan temen-temen yang hadir. Saya dan Ayu harus segera berganti pakaian lagi, dari pakaian payas tegeh, menjadi pakaian kebaya modern dan safari yang kami pesan khusus di designer Gita. Bu Komang datang kembali untuk memperbaiki make up nya Ayu. Setelah selesai, segera kami sapa tamu undangan yang mulai banyak hadir. Undangan dari teman-teman kantor saya tak banyak yang hadir karena kebanyakan masih pada cuti Lebaran.
Fotografer kita kali ini adalah Yasa, gantian shift dengan AA Wahyu Prayasa.:) Tonny Trisnawan juga hadir saat itu, di jalan dia melihat ban mobilnya Wahyu kempes, kemudian dia bantu bawakan ke bengkel, sampai malam. Kasian mereka.:( Akhirnya Tonny tidak jadi ikut jepret-jepret.
Berikut ini beberepa foto hasil jepretan Yasa :
Saya dan Ayu sibuk menyiapkan berbagai keperluan lainnya. Maklum, mungkin karena tumben menikah, banyak hal yang baru kita sadari di menit-menit terakhir. Misalnya: kartu Undangan bisa diselesaikan sebelum tgl 1 oktober 2008, atas bantuan AA Wahyu Prayasa untuk membuatkan desain, juga mencetakkannya. Banyak rekan-rekan yang mengatakan bahwa kartu undangan kami bagus. Di bagian depan berisikan foto kami berpakaian adat lengkap di Museum Bali. Sedangkan untuk cover belakang adalah pakaian ala petani Bali, yang di belakangnya ada banyak bebek. Unik, pendapat beberapa teman. Bebek ini juga suatu kebetulan kami temukan di sutu sawah di Blahkiuh-Badung Utara. Memang dari awal kami merencanakan tema petani di sawah. Ternyata di dekat kami bikin foto-foto petani, juga ada kandang bebek. Sekalian deh, kita ajak bebek-bebeknya berpose juga.:) Kita cetak kartu sebanyak 500 bh, ternyata habis, dan banyak juga temen-temen yang komplain karena gak terima kartu undangan. Maaf ya...:( Wahyu juga yang mencetak foto-foto pilihan ukuran besar, yang dipajang sekeliling rumah.
Bahkan, souvenir pernikahan kami, baru kelar tgl 4 Oktober 2008, yang dicetak di percetakan Bali. Hampir kelupaan, H-1 saya baru ingat untuk mengambil souvenir dan itu hari Sabtu, para pegawainya pada libur. Setibanya di Percetakan Bali, kami sempat pusing ke sana kemari mencari souvenir saya, meskipun katanya sudah kelar. Saya sampai beberapa kali naik turun ke lantai 2 bersama pak satpam, tapi gak ketemu juga. Bikin cemas saja nih. Yah ternyata, souvenir sudah diletakkan di dekat pintu di lantai 1. Souvenir pernikahan kami adalah buku saku yang berisikan teknik Meditasi Angka. Covernya depan belakang berisikan foto pre-wedding kami. Kita cetak 500 eksemplar, dan habis juga.
Minggu, 5 Oktober 2008, kami janjian dengan Bu Komang Anggreni yang akan mendandani kami mulai jam 04 subuh. Sebelumnya kami sudah ke rumahnya di Jl Imam Bonjol - Denpasar. Sejak subuh itu, saya dan Ayu mulai di make-up. Bli Putu Arnawa, temen fotografer dari Ubud, juga sudah hadir sejak jam 07 pagi. Dia pun mulai jeprat-jepret saat make-up.
Pukul 08 wita, kerabat dan tetangga terdekat mulai berdatangan. Mereka telah dibagikan tugas dan menempati posisinya masing-masing. Tak lama, para undangan adat mulai berdatangan. Puncaknya ada pada jam 09 - 10 wita. Karena halaman rumah sempit, segera jadi penuh. Bagi tamu undangan yang telah selesai minum dan menikmati snaknya, segera dipersilakan untuk menikmati makan siang di rumah paman sebelah Barat. Demikian seterusnya sehingga kedua halaman rumah ini jadi penuh.
Jam 11 wita, sesuai dengan rencana, Ida Pedanda dari Griya Tampak Gangsul - Denpasar, yang merupakan Pedanda Siwa kita, sudah tiba. Mbok tukang banten dan para ibu segera sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kelangsungan upacara. Para kerabat dan keluarga besar menyaksikan kami natab banten Mesakapan. Prof. Amarjiva juga kembali hadir, lengkap menggunakan pakaian adat Bali, katanya beliau ingin melihat upacara pernikahan orang Bali.
Selesai upacara, kita makan siang bersama, sambil beramah tamah. Kita harus bergegas kembali menuju ke Samu untuk melakukan upacara Mejauman/Megap-gapan, karena telah disepakati jam 14 di Samu. Kali ini rombongan kita lebih banyak lagi, dibandingkan dengan acara 1 Oktober lalu. Saya dan Ayu masih tetap memakai pakaian Payas Agung, yang dikenakan sejak jam 5 pagi. Kasian Ayu merasakan berat di kepalanya, menahan beban banyaknya bunga dan hiasan di kepala.
Setibanya di Samu, sekitar pukul 14, kami segera menyampaikan sesajen/jaja 11 keben, beserta barang bawaan lainnya. Para ibu segera menyusun dan mengaturnya. Para Bapak berkumpul di Bale Daja untuk mengadakan sedikit upacara mebaosan. Kita sempat menunggu agak alama kehadian Bpk Kelian Samu, karena beliau ada upacara juga di tempat lain. Setelah semuanya hadir, pembicaraan formal dilakukan. Tidak banyak yang dibahas, karena sebagaian besar sudah dibicarakan sebelumnya. Beberapa orang tua jugaturut memberi nasihat kepada kami berdua. Kami juga menandatangani form pernikahan di hadapan Bpk Kelian tegehsari dan Kelian Samu.
Selanjutnya kami sekeluarga sembahyang di Sanggah, untuk memohonkan pamit Ayu kepada leluhurnya, karena sekarang dia sudah menjadi orang Padangsambian. Saat itu, beberapa keluarga sudah balik lebih awal, untuk menyiapkan acara resepsi ntar malamnya. Kami pun segera pamitan dari Samu, untuk segera menyiapkan acara resepsi.
Benar saja, jam 17 kami tiba di rumah, sudah ada beberapa undangan temen-temen yang hadir. Saya dan Ayu harus segera berganti pakaian lagi, dari pakaian payas tegeh, menjadi pakaian kebaya modern dan safari yang kami pesan khusus di designer Gita. Bu Komang datang kembali untuk memperbaiki make up nya Ayu. Setelah selesai, segera kami sapa tamu undangan yang mulai banyak hadir. Undangan dari teman-teman kantor saya tak banyak yang hadir karena kebanyakan masih pada cuti Lebaran.
Fotografer kita kali ini adalah Yasa, gantian shift dengan AA Wahyu Prayasa.:) Tonny Trisnawan juga hadir saat itu, di jalan dia melihat ban mobilnya Wahyu kempes, kemudian dia bantu bawakan ke bengkel, sampai malam. Kasian mereka.:( Akhirnya Tonny tidak jadi ikut jepret-jepret.
Berikut ini beberepa foto hasil jepretan Yasa :
Upacara Ngidih (Meminang) dan Nyuwang (Boyongan) 1 Oktober 2008
Kami sepakati sebelumnya bahwa Upacara Ngidih di Samu akan diadakan pukul 14 wita. Sekitar jam 12, keluarga besar saya sudah balik pulang ke Tegehsari-Padangsambian, sambil menunggu keluarga besar (sekaan mangku) yang akan turut dalam upacara Ngidih ini. Sedangkan saya dan Ayu berangkat langsung dari Sanur menuju Samu, dengan diantar oleh Bli Made Dira. Sekitar 25 menit perjalanan, kami telah tiba di Samu. Karena tiba lebih awal, Ayu masih sempat dipijit oleh Ibunya, karena masuk angin. Karena pakai baju brokat yang banyak bolongnya, jadi masuk angin deh :)
Sekitar pukul 13.30, rombongan keluarga besar saya tiba di Samu. Keluarga besar Ayu juga cukup banyak yang hadir. Para ibu segera menyiapkan banten canang Pangeraos dan perlengkapannya. Setelah dihaturkan oleh Pemangku/Pinandita, pembicaraan antar keluarga pun dimulai. Pihak keluarga saya, yang diwakili oleh Pak Wayan Sudiasa, menyampaikan tujuan kedatangan kita untuk meminang dan memboyong Ayu pada hari tersebut. Dari pihak keluarga Ayu, Pak Ketut Sardika menerima dengan baik semuanya. Para orang tua juga memberikan nasihat-nasihat kepada kami berdua. Saat itu kami membawa Kleian Adat/Dinas dari Banjar Tegehsari-Padangsambian Kaja, namun kelian Samu tidak bisa hadir karena saat itu banyak berbarengan warganya yang menikah. Sehingga diputuskan, untuk penandatangan surat-surat pernikahan akan dilakukan tgl 5 Oktober 2008, di hadapan kedua Kelian.
Selesai acara Ngidih tersebut, kami sembahyang di Sanggahnya Ayu, berdoa kepada Tuhan semoga pernikahan kami diberkati dan memohon izin kepada leluhurnya untuk memboyong Ayu ke rumah saya. Karena hari sudah beranjak sore, kami segera berpamitan dan menuju ke rumah saya di Padangsambian.
Sekitar pukul 17 wita, kami sudah tiba di rumah. Tampak beberapa keluarga dari Samu juga turut mengantar Ayu. Kami tak boleh langsung masuk ke rumah, karena ada upacara yang harus dilakukan dulu di pintu masuk rumah. Kami harus menunggu sekitar 30 menit kehadiran Pemangku/Pinandita yang akan menghaturkan banten tersebut. Selesai upacar tersebut, kami memasuki rumah dan suasana sudah mulai redup. Di halaman rumah sudah ditata rapi banten Mabyekala yang cukup besar. Kami natab banten Pabyekala di halaman rumah, yang dipimpin Pemangku Pak Gede Suda. Di bagian akhir, ada kalanya saya harus menyelipkan keris di pinggang sambil memikul cangkul, sedangkan Ayu membawa sok berisi berbagai hal di kepalanya. Konon hal ini menyimbulkan betapa beratnya kehidupan berumah tangga. Kemudian berbagai tanaman: endong, kunyit, keladi yang ada di dalam sok kita bawa ke sanggah dan ditanam di belakang Sanggah kemulan. Sampai saat ini tanaman ini masih hidup. Saat tersebut suasana sudah gelap sehingga menyulitkan bagi yang mengambil gambar video.
Setelah beramah tamah dan makan malam, keluarga dari Samu segera berpamitan pulang, mengingat jarak yang cukup jauh, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Mulai hari itu, secara adat Bali kami telah resmi menjadi suami istri, dengan ditandai adanya upacara Mabyekala, sedangkan secara Veda ditandai dengan upacara Agnihotra. Namun puncak upacara Pernikahan kami akan dilakukan pad atgl 5 Oktober 2008.
Sekitar pukul 13.30, rombongan keluarga besar saya tiba di Samu. Keluarga besar Ayu juga cukup banyak yang hadir. Para ibu segera menyiapkan banten canang Pangeraos dan perlengkapannya. Setelah dihaturkan oleh Pemangku/Pinandita, pembicaraan antar keluarga pun dimulai. Pihak keluarga saya, yang diwakili oleh Pak Wayan Sudiasa, menyampaikan tujuan kedatangan kita untuk meminang dan memboyong Ayu pada hari tersebut. Dari pihak keluarga Ayu, Pak Ketut Sardika menerima dengan baik semuanya. Para orang tua juga memberikan nasihat-nasihat kepada kami berdua. Saat itu kami membawa Kleian Adat/Dinas dari Banjar Tegehsari-Padangsambian Kaja, namun kelian Samu tidak bisa hadir karena saat itu banyak berbarengan warganya yang menikah. Sehingga diputuskan, untuk penandatangan surat-surat pernikahan akan dilakukan tgl 5 Oktober 2008, di hadapan kedua Kelian.
Selesai acara Ngidih tersebut, kami sembahyang di Sanggahnya Ayu, berdoa kepada Tuhan semoga pernikahan kami diberkati dan memohon izin kepada leluhurnya untuk memboyong Ayu ke rumah saya. Karena hari sudah beranjak sore, kami segera berpamitan dan menuju ke rumah saya di Padangsambian.
Sekitar pukul 17 wita, kami sudah tiba di rumah. Tampak beberapa keluarga dari Samu juga turut mengantar Ayu. Kami tak boleh langsung masuk ke rumah, karena ada upacara yang harus dilakukan dulu di pintu masuk rumah. Kami harus menunggu sekitar 30 menit kehadiran Pemangku/Pinandita yang akan menghaturkan banten tersebut. Selesai upacar tersebut, kami memasuki rumah dan suasana sudah mulai redup. Di halaman rumah sudah ditata rapi banten Mabyekala yang cukup besar. Kami natab banten Pabyekala di halaman rumah, yang dipimpin Pemangku Pak Gede Suda. Di bagian akhir, ada kalanya saya harus menyelipkan keris di pinggang sambil memikul cangkul, sedangkan Ayu membawa sok berisi berbagai hal di kepalanya. Konon hal ini menyimbulkan betapa beratnya kehidupan berumah tangga. Kemudian berbagai tanaman: endong, kunyit, keladi yang ada di dalam sok kita bawa ke sanggah dan ditanam di belakang Sanggah kemulan. Sampai saat ini tanaman ini masih hidup. Saat tersebut suasana sudah gelap sehingga menyulitkan bagi yang mengambil gambar video.
Setelah beramah tamah dan makan malam, keluarga dari Samu segera berpamitan pulang, mengingat jarak yang cukup jauh, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Mulai hari itu, secara adat Bali kami telah resmi menjadi suami istri, dengan ditandai adanya upacara Mabyekala, sedangkan secara Veda ditandai dengan upacara Agnihotra. Namun puncak upacara Pernikahan kami akan dilakukan pad atgl 5 Oktober 2008.
Foto-foto Agnihotra by Yasa
Foto-foto Agnihotra by Yasa
Foto-foto Agnihotra by Wahyu Prayasa
Foto-foto Agnihotra by Wahyu Prayasa
Upacara Agnihotra 1 Oktober 2008 di Center Meditasi Angka Denpasar
Kami telah sepakati sebelumnya bahwa Upacara Agnihotra pernikahan kami akan dilakukan Rabu, 1 Oktober 2008 (bertepatan dengan hari raya Lebaran) jam 8 pagi di Center Meditasi Angka Denpasar (Padanggalak-Sanur).
Berbagai persiapan telah dilakukan. Minggu 28 September 2008, kita meminta bantuan para saudara dan tetangga terdekat untuk membuat tetaring di rumah. Tetaring adalah atap peneduh halaman rumah yang dibuat dari tiang-tiang bambu dan atapnya dari kelangsah (daun kelapa yang dianyam). Kelangsah ini kita beli di daerah Blumbungan, Darmasaba, Badung Utara. Kalau zaman dulu, saat pohon kelapa masiih ada banyak, kelangsah ini kita anyam sendiri, dengan meminta bantuan para kerabat dan tetangga, karena jumlah yang dibutuhkan sangat banyak. Di halaman rumah paman sebelah Barat juga diisi tetaring, karena di sana direncanakan untuk tempat para undangan menikmati makanan.
Selasa 30 September 2008, di rumah, para ibu sibuk membuat banten/sesajen untuk upacara Mabyekala/Mekala-kala keesokan sorenya. Kita juga meminta bantuan para Bibi dan ibu-ibu tetangga terdekat. Ternyata banten Mabyekala zaman sekarang cukup besar dan lengkap. Beda dengan penuturan zaman dulu yang bantennya sedikit sekali.
Siangnya saya menuju Center di Padanggalak untuk melihat persiapan di sana. Saat itu beberapa teman sedang menjalin bunga gumitir yang akan dipakai untuk menghias bangunan tempat Agnihotra akan dilakukan esok harinya. Ternyata hiasan yang dibuat cukup banyak, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat dan memasangnya. Kita jug amembuat hiasan paku pipid (hiasan dari janur yang digantung di tali untuk menghiasi bagian atas bangunan). Sore harinya tiba 2 buah hiasan janur yang sangat cantik, diletakkan di kiri kanan pintu masuk Akhanda Dhuna (bangunan tempat api suci) dan beberapa tamiang (hiasan dinding dari janur dan bunga yang umumnya berbentuk lingkaran). Kursi tamu dan tenda juga tiba sore itu.
Ternyata persiapan kita sampai malam. Malam itu Ayu dan Dewi membuat beberapa garlan (kalungan bunga), ada 2 pasang garlan untuk penganten, untuk pemimpin upacara, dan undangan terhormat. Hampir sampai tengah malam baru persiapan kelar.
Rabu, 1 Oktober 2008.
Pagi jam 07 wita, para kerabat dan tetangga terdekat sudah mulai tiba di rumah, untuk turut serta menghadiri upacara Agnihotra di Padanggalak-Sanur. Setelah disuguhi minuman dan kue, kami segera berangkat, karena kita rencanakan jam 8 pagi upacara dimulai. Hampir 30 menit perjalanan, kami sekeluarga besar tiba di Center Meditasi Angka Denpasar. Tampak sudah banyak orang di sana, keluarga Ayu dan teman-teman kami sudah banyak yang hadir. Tampak Center sangat indah dengan berbagai hiasannya.
Saya segera mengganti pakaian di kamar pria. Pakaian Agnihotra untuk penganten pria sangaaat sederhana. Hanya 2 selembar kain putih untuk kamen dan selendang. Bahkan kain itu tak boleh ada jahitannya. Karena tak bisa memakai kain ala India, saya dibantu oleh Pande untuk memakaikannya. sebenarnya mirip dengan kamenya pria Bali, hanya saja kancut (ujung kain) dibawa ke belakang melewati selangkangan dan ujungnya diselip di pinggang. Kontras dengan pakaian penganten wanita, mereka memakai pakaian dan perhiasan yang sebanyak-banyaknya.
Hotri (pemimpin upacara) saat itu adalah Prabu Suresh dan pembantu hotri adalah Adideva. Mereka telah menyiapkan segala keperluan upacara dan sudah memulai upacara. Saya dan Bli Wismagiri dipanggil untuk datang ke tempat Agnihotra. Hotri memulai upacara dengan membacakan banyak doa dan mantra. Kemudian kedua mempelai wanita juga tiba, dengan memakai pakain serba merah, dengan wajah yang ditutupi cadar. Nantinya mempelai pria membuka cadar penganten wanita, lalu penganten wanita memakaikan garlan kepada calon suaminya.
Hotri memimpin upacara dan memandu kami, apa-apa saja yang harus dilakukan. Seluruh upacara berlangsung dengan khusuk. Terdengar pembacaan kekawin Bhagawad Gita oleh Bapak dan Ibunya Pande, menambah suasana rohani. Keluarga besar saya tampak antusias melihat upacara Agnihotra ini, karena umumnya mereka baru pertama kali ini melihatnya. Temen-temen pe-Meditasi Angka juga tak kalah antusias, karena ini pertama kalinya upacara Agnihotra pernikahan dilakukan di Center Denpasar. Yang tak kalah membahagiakan, saat upacara berlangsung, hadir juga Guru Darmayasa yang baru semalamnya tiba dari Jakarta, bersama Prof. Amarjiva dari India. Di akhir upacara, para penganten memohon berkah dari Guru Darmayasa, yang juga diikuti oleh semua yang hadir.
Berikutnya ada sedikit upacara seremonial yang dipandu oleh MC dadakan, Pak Aris Widyastana. Pihak keluarga saya memberikan sambutan yang disampaikan oleh Bli Nyoman Merta, sedangkan dari pihak keluarga wanita oleh Pak Ketut Sardika. Guru Darmayasa juga diminta memberikan wejangannya. Beliau memberikan wejangan sambil duduk di teras Dhuna Guru. Beliau menyampaikan tentang makna upacara perkawinan dan pentingnya untuk mempunya anak yang su-putra.
Acara selanjutnya adalah makan siang dan ramah tamah. Nasi kotak vegetarian saat itu yang dibuat oleh Mbok Witri, diakui enak oleh teman-teman. Kami tak bisa berlama-lama di Center, karena jam 13 kita akan melakukan upacara Ngidih di Samu-Batubulan. Kami para penganten segera berganti pakaian dengan pakaian adat Bali lagi. Bahkan saat itu temen-temen udah mulai bongkar tenda dan mengangkut kursi-kursi ke atas, ke jalan raya. Wah.. mereka jadi mandi keringat semua. Terima aksih yang sebesar-besarnya pada seluruh teman-teman yang telah membantu upacara ini.
Berbagai persiapan telah dilakukan. Minggu 28 September 2008, kita meminta bantuan para saudara dan tetangga terdekat untuk membuat tetaring di rumah. Tetaring adalah atap peneduh halaman rumah yang dibuat dari tiang-tiang bambu dan atapnya dari kelangsah (daun kelapa yang dianyam). Kelangsah ini kita beli di daerah Blumbungan, Darmasaba, Badung Utara. Kalau zaman dulu, saat pohon kelapa masiih ada banyak, kelangsah ini kita anyam sendiri, dengan meminta bantuan para kerabat dan tetangga, karena jumlah yang dibutuhkan sangat banyak. Di halaman rumah paman sebelah Barat juga diisi tetaring, karena di sana direncanakan untuk tempat para undangan menikmati makanan.
Selasa 30 September 2008, di rumah, para ibu sibuk membuat banten/sesajen untuk upacara Mabyekala/Mekala-kala keesokan sorenya. Kita juga meminta bantuan para Bibi dan ibu-ibu tetangga terdekat. Ternyata banten Mabyekala zaman sekarang cukup besar dan lengkap. Beda dengan penuturan zaman dulu yang bantennya sedikit sekali.
Siangnya saya menuju Center di Padanggalak untuk melihat persiapan di sana. Saat itu beberapa teman sedang menjalin bunga gumitir yang akan dipakai untuk menghias bangunan tempat Agnihotra akan dilakukan esok harinya. Ternyata hiasan yang dibuat cukup banyak, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat dan memasangnya. Kita jug amembuat hiasan paku pipid (hiasan dari janur yang digantung di tali untuk menghiasi bagian atas bangunan). Sore harinya tiba 2 buah hiasan janur yang sangat cantik, diletakkan di kiri kanan pintu masuk Akhanda Dhuna (bangunan tempat api suci) dan beberapa tamiang (hiasan dinding dari janur dan bunga yang umumnya berbentuk lingkaran). Kursi tamu dan tenda juga tiba sore itu.
Ternyata persiapan kita sampai malam. Malam itu Ayu dan Dewi membuat beberapa garlan (kalungan bunga), ada 2 pasang garlan untuk penganten, untuk pemimpin upacara, dan undangan terhormat. Hampir sampai tengah malam baru persiapan kelar.
Rabu, 1 Oktober 2008.
Pagi jam 07 wita, para kerabat dan tetangga terdekat sudah mulai tiba di rumah, untuk turut serta menghadiri upacara Agnihotra di Padanggalak-Sanur. Setelah disuguhi minuman dan kue, kami segera berangkat, karena kita rencanakan jam 8 pagi upacara dimulai. Hampir 30 menit perjalanan, kami sekeluarga besar tiba di Center Meditasi Angka Denpasar. Tampak sudah banyak orang di sana, keluarga Ayu dan teman-teman kami sudah banyak yang hadir. Tampak Center sangat indah dengan berbagai hiasannya.
Saya segera mengganti pakaian di kamar pria. Pakaian Agnihotra untuk penganten pria sangaaat sederhana. Hanya 2 selembar kain putih untuk kamen dan selendang. Bahkan kain itu tak boleh ada jahitannya. Karena tak bisa memakai kain ala India, saya dibantu oleh Pande untuk memakaikannya. sebenarnya mirip dengan kamenya pria Bali, hanya saja kancut (ujung kain) dibawa ke belakang melewati selangkangan dan ujungnya diselip di pinggang. Kontras dengan pakaian penganten wanita, mereka memakai pakaian dan perhiasan yang sebanyak-banyaknya.
Hotri (pemimpin upacara) saat itu adalah Prabu Suresh dan pembantu hotri adalah Adideva. Mereka telah menyiapkan segala keperluan upacara dan sudah memulai upacara. Saya dan Bli Wismagiri dipanggil untuk datang ke tempat Agnihotra. Hotri memulai upacara dengan membacakan banyak doa dan mantra. Kemudian kedua mempelai wanita juga tiba, dengan memakai pakain serba merah, dengan wajah yang ditutupi cadar. Nantinya mempelai pria membuka cadar penganten wanita, lalu penganten wanita memakaikan garlan kepada calon suaminya.
Hotri memimpin upacara dan memandu kami, apa-apa saja yang harus dilakukan. Seluruh upacara berlangsung dengan khusuk. Terdengar pembacaan kekawin Bhagawad Gita oleh Bapak dan Ibunya Pande, menambah suasana rohani. Keluarga besar saya tampak antusias melihat upacara Agnihotra ini, karena umumnya mereka baru pertama kali ini melihatnya. Temen-temen pe-Meditasi Angka juga tak kalah antusias, karena ini pertama kalinya upacara Agnihotra pernikahan dilakukan di Center Denpasar. Yang tak kalah membahagiakan, saat upacara berlangsung, hadir juga Guru Darmayasa yang baru semalamnya tiba dari Jakarta, bersama Prof. Amarjiva dari India. Di akhir upacara, para penganten memohon berkah dari Guru Darmayasa, yang juga diikuti oleh semua yang hadir.
Berikutnya ada sedikit upacara seremonial yang dipandu oleh MC dadakan, Pak Aris Widyastana. Pihak keluarga saya memberikan sambutan yang disampaikan oleh Bli Nyoman Merta, sedangkan dari pihak keluarga wanita oleh Pak Ketut Sardika. Guru Darmayasa juga diminta memberikan wejangannya. Beliau memberikan wejangan sambil duduk di teras Dhuna Guru. Beliau menyampaikan tentang makna upacara perkawinan dan pentingnya untuk mempunya anak yang su-putra.
Acara selanjutnya adalah makan siang dan ramah tamah. Nasi kotak vegetarian saat itu yang dibuat oleh Mbok Witri, diakui enak oleh teman-teman. Kami tak bisa berlama-lama di Center, karena jam 13 kita akan melakukan upacara Ngidih di Samu-Batubulan. Kami para penganten segera berganti pakaian dengan pakaian adat Bali lagi. Bahkan saat itu temen-temen udah mulai bongkar tenda dan mengangkut kursi-kursi ke atas, ke jalan raya. Wah.. mereka jadi mandi keringat semua. Terima aksih yang sebesar-besarnya pada seluruh teman-teman yang telah membantu upacara ini.
Tuesday, 24 March 2009
Upacara "Nyuwaka" atau "Ngewangsit" 27 Sept 2008
Tiga hari menjelang upacara Pernikahan yang telah disepakati, tgl 1 Oktober 2008 nanti, saya bersama ortu datang ke kampung asal Ayu di Banjar Samu, Batubulan, Gianyar, Bali. Dengan minta bantuan Wayan Amir untuk mengantarkan ke sana, kami berempat menuju Samu. TujuanUpacara "Nyuwaka" atau "Ngewangsit" ini adalah sebagai pemberitahuan awal kepada keluarga mempelai wanita, bahwa 3 hari kemudian kami akan melangsungkan upacara pernikahan.
Kami disambut dengan baik oleh keluarga Ayu. Saat itu Ayu baru beberapa harinya tiba dari Makassar. Sebagai tuan rumah adalah Om-nya Ayu yang tinggal di rumah di Samu, yang juga dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Juga dihadiri oleh Paman dan beberapa sepupu terdekat.
Sesaat setelah semua kumpul, segera Bapak saya menyampaikan maksud kedatangan kami. Pihak tuan rumah pun segera menyetujui saja, karena sebenarnya hal ini sudah dibahas saat pertemuan keluarga di Makassar. Ibu saya juga menanyakan banten/sesajen apa saja yang perlu dibawa saat upacara Pinangan dan Boyongan tgl 1 Oktober nanti, disesuaikan dengan adat istiadat setempat. Para tetua juga banyak memberi nasihat kepada kami yang akan memasuki masa berumah tangga.
Karena sudah sore, kami berpamitan pulang, karena jarak pulang ke rumah lumayan jauh, sekitar 35 menit perjalanan dengan berkendaraan.
Kami disambut dengan baik oleh keluarga Ayu. Saat itu Ayu baru beberapa harinya tiba dari Makassar. Sebagai tuan rumah adalah Om-nya Ayu yang tinggal di rumah di Samu, yang juga dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Juga dihadiri oleh Paman dan beberapa sepupu terdekat.
Sesaat setelah semua kumpul, segera Bapak saya menyampaikan maksud kedatangan kami. Pihak tuan rumah pun segera menyetujui saja, karena sebenarnya hal ini sudah dibahas saat pertemuan keluarga di Makassar. Ibu saya juga menanyakan banten/sesajen apa saja yang perlu dibawa saat upacara Pinangan dan Boyongan tgl 1 Oktober nanti, disesuaikan dengan adat istiadat setempat. Para tetua juga banyak memberi nasihat kepada kami yang akan memasuki masa berumah tangga.
Karena sudah sore, kami berpamitan pulang, karena jarak pulang ke rumah lumayan jauh, sekitar 35 menit perjalanan dengan berkendaraan.
Photo Pre-wedding by Agung Ratna
Agung Ratna, temanku yang juga istrindanya Wahyu Prayasa. Pasangan suami-istri photografer nih. Gung Ratna juga banyak membantu kami untuk memperbaiki make-up selama seharian pemotretan itu.
Di sela kesibukannya memegang Flash, mengarahkan gaya, dll, berikut ini beberapa hasil jepretannya :
Di sela kesibukannya memegang Flash, mengarahkan gaya, dll, berikut ini beberapa hasil jepretannya :
Photo Pre-wedding by Tonny Trisnawan
Berikut ini beberapa foto yang dijepret oleh temanku, Tonny Trisnawan.
Photo Pre-wedding by AA Wahyu Prayasa
Berikut ini beberapa foto Pre-wedding kami yang dijepret oleh temanku, AA Wahyu Prayasa. Makasi banyak ya Kak Wahyu ;)
Dia juga yang membantu print gede beberapa foto untuk dipajang di rumah, pada saat upacara.
Berikut ini beberapa fotonya :
Dia juga yang membantu print gede beberapa foto untuk dipajang di rumah, pada saat upacara.
Berikut ini beberapa fotonya :
Monday, 9 March 2009
Pre-Wedding Photo Session bersama temen-temen Blue Creative
Sepulang dari Sulawesi tgl 7 September 2008, sedangkan Ayu baru balik ke Denpasar tgl 9 September. Saya minta bantuan temen-temen Blue Creative untuk bikinin foto pre-wedding. Tentang tempat dan lain sebagainya, saya serahkan mereka yang mengaturnya. Syukurnya kami dapt perias AAA yang sangat terkenal di Denpasar. Ternyata Bli Gede Wismagiri (kakaknya Ayu) dan Mbak Rara (istri Bli Gede) juga ingin membuat foto pre-wedding. Jadilah ada 2 pasangan foto nantinya.
Tgl 14 September 2008, kami sepakati untuk membuat foto pre-wedding. Subuh-subuh kami ber-4 datang ke rumah AAA untuk didandani. Sekitar jam 07.30 temen-temen tukang foto tiba yaitu AA Wahyu Prayasa, Tonny Trisnawan dan Yasa. Karena kami memilih menggunakan pakaian adat Bali lengkap ala zaman kerajaan, kami memilih lokasi foto di Museum Bali. Berikut ini beberapa karya mereka :
Matahari mulai beranjak naik, kami segera bergegas, karena Golden Moment (waktu terbaik) untuk mengambil foto sangat sempit. Temen-temen fotografer memutuskan memilih lokasi sebuah Pura di daerah Sangeh, Badung Utara. Lokasinya cukup jauh, kami segera meluncur. Lokasinya cukup unik, mungkin hanya para tukang foto yang tahu lokasi ini. Di sana ada kolam cukup luas, di dalamnya ada Pura kecil berisi jembatan, di hulu kolam juga ada Pura yang besar. Wah benar-benar seperti khayalan semuanya. Dengan menggunakan kostum yang tadi, kami segera dijepret-jepret, biar gak keburu siang. Ternyata ada juga turis asing lewat sana, eh...malah ikut jepret-jepret kita. Berikut ini beberapa hasil jepretannya:
Karena hari sudah siang, dan perut mulai keroncongan, kita putuskan istirahat untuk makan siang dulu. Kami masih merencanakan mencari 1 lokasi di sawah, dengan menggunakan kostum petani. Kami ganti kostum kerajaan tadi dengan kostum petani. Kita meluncur sambil melihat-lihat lokasi sawah yang bagus, sambil cari tempat makan. Cukup susah cari tempat makan siang karena kami vegetarian. Akhirnya kami putuskan untuk ke Bale Timbang saja, karena tempat makannya sangat asyik, ada pondok-pondok bambu di tengah kebun-kebun rindang.
Tgl 14 September 2008, kami sepakati untuk membuat foto pre-wedding. Subuh-subuh kami ber-4 datang ke rumah AAA untuk didandani. Sekitar jam 07.30 temen-temen tukang foto tiba yaitu AA Wahyu Prayasa, Tonny Trisnawan dan Yasa. Karena kami memilih menggunakan pakaian adat Bali lengkap ala zaman kerajaan, kami memilih lokasi foto di Museum Bali. Berikut ini beberapa karya mereka :
Matahari mulai beranjak naik, kami segera bergegas, karena Golden Moment (waktu terbaik) untuk mengambil foto sangat sempit. Temen-temen fotografer memutuskan memilih lokasi sebuah Pura di daerah Sangeh, Badung Utara. Lokasinya cukup jauh, kami segera meluncur. Lokasinya cukup unik, mungkin hanya para tukang foto yang tahu lokasi ini. Di sana ada kolam cukup luas, di dalamnya ada Pura kecil berisi jembatan, di hulu kolam juga ada Pura yang besar. Wah benar-benar seperti khayalan semuanya. Dengan menggunakan kostum yang tadi, kami segera dijepret-jepret, biar gak keburu siang. Ternyata ada juga turis asing lewat sana, eh...malah ikut jepret-jepret kita. Berikut ini beberapa hasil jepretannya:
Karena hari sudah siang, dan perut mulai keroncongan, kita putuskan istirahat untuk makan siang dulu. Kami masih merencanakan mencari 1 lokasi di sawah, dengan menggunakan kostum petani. Kami ganti kostum kerajaan tadi dengan kostum petani. Kita meluncur sambil melihat-lihat lokasi sawah yang bagus, sambil cari tempat makan. Cukup susah cari tempat makan siang karena kami vegetarian. Akhirnya kami putuskan untuk ke Bale Timbang saja, karena tempat makannya sangat asyik, ada pondok-pondok bambu di tengah kebun-kebun rindang.
Friday, 6 March 2009
Melamar ke Sulawesi Selatan plus 12 jam Naik Bus Malam

Akhir Agustus 2008 dia berangkat duluan, sendirian, ke kampung halamannya di daerah Kertaraharja, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sedangkan saya berangkat belakangan, karena harus mengajukan cuti dulu di tempat kerja.
5 September 2008, saya bersama Ibu dan Bapak saya berangkat ke Sulawesi naik Lion yang berangkat pagi hari. Sekitar jam 11 siang kami tiba di bandara Makasar yang baru dan masih pengerjaan saat itu. Awalnya kami diinfokan bahwa kami akan ada yang menjemput. Begitu keluar Bandara, kami masih belum tahu siapa yang akan menjemput, karena nelpon ke Ayu susah sekali, di rumahnya sangat susah dapet sinyal hp (bahkan semua operator). Akhirnya kami didatangi oleh seorang Ibu sambil berkata, "Adi ya?" Ternyata beliau adalah Tante Enceng yang menjemput kami bersama Bli Kadek (sepupunya Ayu). Tante Enceng yang super ruame kemudian mengajak kami ke rumahnya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan sorenya dengan bus malam.
Di rumah Tante kami disuguhi banyak makanan, karena beliau emang suka dan pinter masak. Ada brownis vegetarian yang enak, dll. Lalu kami diajak makan siang, dengan menu vegetarian yang semuanya enak. Di sana juga ada Pak Wayan Tawa (omnya Ayu) yang juga akan ikut pulang ke Kerta. Siangnya datang Om Komang Mahawira (omnya Ayu) dari kantor. Kami ngobrol banyak, beliau banyak menceritakan tentang kisah hidupnya sejak kecil.
Sore harinya, kami diantar ke tempat bus malam untuk menempuh 12 jam perjalanan lagi. Karena agak telat memesan tempat (karena sejak siang ditelpon tidak bisa nyambung), akhirnya kami dapat tempat duduk paling belakang. Selama 12 jam perjalan berikutnya lumayan bikin pinggang pegel.
Pagi hari kita tiba di jalan menuju Kerta. Kami dijemput dengan mobil. Sekitar 2 km, kami tiba di rumah Ayu. Kami disambut oleh Bapak dan Ibunya Ayu. Kemudian semua ngobrol beramah tamah di rumah yang penuh dengan tanaman dan bunga-bunga. Karena masih capek dalam perjalanan, kita istirahat dulu dan malam harinya akan diadakan pembicaraan antara kedua ortu kami. Dalam pembicaraan tersebut, yang hanya dihadiri hanya dari kedua keluarga kami saja, hampir semuanya berjalan lancar. Namun ada permintaan ortu Ayu yang tak bisa dipenuhi oleh ortu saya, yaitu tentang penggunaan banten upacara pernikahan yang tanpa menggunakan daging. Ortu saya tidak bis amemenuhi ini karena di masyarakat asal saya belum biasa menggunakan ini dan kami takut tidak didukung oleh masyarakat sekitar.
Esok paginya, Ayu mengajak kami sembahyang ke Pura di Palopo. Ternyata perjalananya cukup jauh. Sepanjang perjalanan kami melihat-lihat pemandangan tanah Sulawesi yang tumben kami datangi. Sayangnya selama perjalanan turun hujan lebat, sehingga saya tak bisa mengambil banyak foto. Dalam perjalanan kami juga melewati lokasi penambangan PT Inco, wahh luasnya, beberapa bukit mereka tambangi. Kami juga mampir ke Danau...yang airnya sangat jernih. Tapi karena masih hujan rintik-rintik, kami tak jadi mandi. Kemudian kami ke Pura yang dekat dengan Danau tersebut. Bangunan Puranya khas Bali. Tampak juga beberapa karyawan PT Iinco yang sudah selesai sembahyang. Kemudian saya sekeluarga sembahyang, sedangkan Ayu menunggu di luar karena sedang datang bulan. Dalam perjalanan pulang kembali hujan lebat. Hampir sore baru kami tiba kembali di rumah.
Malam harinya beberapa kerabat Ayu berdatangan karena memang diundang untuk acara Lamaran malam itu. Mungkin ada sekitar 25 orang tamu yang hadir. Kembali ortu saya menyampaikan Lamaran seperti malam sebelumnya, kepada keluarga besar Ayu. Semuanya berjalan lancar dan beberapa orang memberikan nasihat-nasihat kepada kami. Mereka sebagaian besar lucu-lucu, sehingga pertemuan tersebut penuh canda tawa.
Keesokan paginya saya dan Ayu pergi ke Luwu untuk mencari warnet. Ternyata warnetnya tutup. Kemudian kita menyusuri perjalanan jauh dengan naik sepeda motor, untuk melihat-lihat alam Sulawesi. Jalannya berkelok di pegunungan, konon jalan itu menuju ke Sulawesi Tengah. Kami singgah di sebuah air terjun, mungkin sebelumnya dicoba menjadi obyek wisata, tapi sekarang gak terlalu terawat. Mungkin airnya mengandung belerang, sehingga batuan di sana berwarna putih kekuningan. Kami berusaha mencari anggrek hutan, tapi karena semuanya tinggi-tinggi nempel di pohon, tak bis akami jangkau. Kami melanjutkan lagi perjalanan, sambil melihat-lihat jika ada yang menjual anggrek di pinggir jalan. Memang ada beberapa rumah yang menjual anggrek di halaman rumahnya, tapi semuanya sedang tidak berbunga, mungkin gak musimnya. Kami teruskan lagi perjalanan sampai menemukan anggrek tanah yang berwarna merah dan putih. Kami ambil beberapa untuk ditanam di rumah Ayu. Karena sudah siang dan jauh, kami balik pulang. Di perjalanan pulang, kami istirahat sebentar di pinggir sungai yang lebar dan mungkin ada buayanya. Maunya sih nyari batu-batu sungai yang bagus-bagus, tapi ternyata susah dijangkau. Akhirnya kami balik ke rumah dan menanam anggrek tanah tersebut.
Sore tersebut kami berkemas karena harus segera balik ke Makasar. Kami diantar menuju rumah Pak Ketut Laba, menunggu bis malam di sana. Setelah pamitan, kami naik bis menuju Makasar. Esok paginya tiba di Bandara Makasar, langsung menuju Denpasar dengan naik pesawat Garuda. Sekitar jam 13 kami sudah tiba kembali di rumah di Denpasar. Puji syukur pada Tuhan bahwa acara lamaran ini berjalan selamat dan lancar.
Akhirnya Kami Menikah ...:)
Hehe....judul yang anehh....:)
Setelah melewati berbagai hambatan dan rintangan, akhirnya kami, saya dan Ayu, bersepakat untuk menikah. Saat itu sekitar akhir Agustus 2008-awal September 2008. Memang beberapa kali sebelumnya kami sempat merencanakan pernikahan, tapi selalu saja ada halangan.
Awalnya....perkenalan saya dengan istri terjadi sekitar tahun 2003. Saat itu dia baru pulang dari India. Dia disuruh mengambil sebuah surat yang difax oleh Bpk Darmayasa dari India, ke no fax di tempat saya bekerja. Saat itu pertemuan kami hanya singkat saja, bahkan saat itu saya mengira bhawa dia adalah anak dari Bpk Darmayasa...sampai-sampai di phone book HP saya, saya beri dia nama Ayu Darmayasa :) Ternyata belakangan baru tahu, dia adalah dari Sulawesi Selatan.
Kemudian Ayu balik ke India, meneruskan kuliah S2 nya. Kami sering kontak via telepon atau SMS. Kadang-kadang juga via chating. Semakin lama kami semakin akrab. Banyak hal kesamaan yang kami rasakan berdua. Dia juga sering menceritakan kisah hidupnya sejak kecil, karena orangnya memang tukang ngobrol :)
Februari 2005 dia sempat datang ke Bali, sambil mengiringi Guruji Kamal Kishore Gosvami, untuk menghadiri serangkaian perayaan Ulang Tahun Meditasi Angka yang ke-5. Mereka di Bali hanya beberapa hari saja. Ternyata....di pertemuan kedua ini, Ayu tidak mengenali saya lagi.:( Katanya bayangan dia saya beda dengan pertemuan yag pertama, padahal saya tetep begini2 saja. Lalu dia balik lagi ke India, menyelesaikan kuliahnya, dan juga kuliah D3 Bahasa Hindi.
September 2008, setelah melalui diskusi yang sangattt panjang, akhirnya kami sepakat untuk menikah sekitar bulan Oktober 2008. Dia mensyaratkan supaya saya mengajak orang tua saya untuk melamar dia ke Sulawesi Selatan, menemui orang tuanya.
Setelah melewati berbagai hambatan dan rintangan, akhirnya kami, saya dan Ayu, bersepakat untuk menikah. Saat itu sekitar akhir Agustus 2008-awal September 2008. Memang beberapa kali sebelumnya kami sempat merencanakan pernikahan, tapi selalu saja ada halangan.
Awalnya....perkenalan saya dengan istri terjadi sekitar tahun 2003. Saat itu dia baru pulang dari India. Dia disuruh mengambil sebuah surat yang difax oleh Bpk Darmayasa dari India, ke no fax di tempat saya bekerja. Saat itu pertemuan kami hanya singkat saja, bahkan saat itu saya mengira bhawa dia adalah anak dari Bpk Darmayasa...sampai-sampai di phone book HP saya, saya beri dia nama Ayu Darmayasa :) Ternyata belakangan baru tahu, dia adalah dari Sulawesi Selatan.
Kemudian Ayu balik ke India, meneruskan kuliah S2 nya. Kami sering kontak via telepon atau SMS. Kadang-kadang juga via chating. Semakin lama kami semakin akrab. Banyak hal kesamaan yang kami rasakan berdua. Dia juga sering menceritakan kisah hidupnya sejak kecil, karena orangnya memang tukang ngobrol :)
Februari 2005 dia sempat datang ke Bali, sambil mengiringi Guruji Kamal Kishore Gosvami, untuk menghadiri serangkaian perayaan Ulang Tahun Meditasi Angka yang ke-5. Mereka di Bali hanya beberapa hari saja. Ternyata....di pertemuan kedua ini, Ayu tidak mengenali saya lagi.:( Katanya bayangan dia saya beda dengan pertemuan yag pertama, padahal saya tetep begini2 saja. Lalu dia balik lagi ke India, menyelesaikan kuliahnya, dan juga kuliah D3 Bahasa Hindi.
September 2008, setelah melalui diskusi yang sangattt panjang, akhirnya kami sepakat untuk menikah sekitar bulan Oktober 2008. Dia mensyaratkan supaya saya mengajak orang tua saya untuk melamar dia ke Sulawesi Selatan, menemui orang tuanya.
Subscribe to:
Comments (Atom)