

Hari-hari yang mendebarkan
Beberapa hari terakhir istri mulai merasakan ada sedikit kontraksi pada perutnya. Tanggal 10 Agustus 2009 subuh kembali istri merasakan sakit di perutnya kemudian hilang lagi. Kami tak terlalu khawatir karena banyak orang bilang bahwa sakit perut menjelang kelahiran sering datang dan pergi. Apalagi mengingat jadwal kelahiran dari dokter tanggal 31 Agustus 2009, masih lama, masih 3 minggu lagi. Pagi harinya saya pun berangkat ngantor seperti biasa.
Saat istirahat makan siang, seperti biasa saya makan siang di rumah. Sebelumnya istri sempat ditelpon oleh Bapak mertua. Setelah mencetakan keadaanya saat itu, mertua menyuruh kami untuk siap siaga, bahwa kelahiran akan terjadi dalam hitungan hari, bukan lagi minggu. Siang itu kondisi istri baik-baik saja. Selesai istirahat makan, saya kembali ke kantor.
Pukul 13 wita, istri menelpon, mengatakan bahwa air ketubannya pecah... Apa....?? Begitu kaget mendengar kabar itu, saya segera izin dari kantor. Sampai di rumah, saya melihat istri masih berdiri di kamar tidur sedangkan di lantai kamar dipenuhi air ketuban. Tadinya dia sedang tidur, tiba-tiba merasa ada suara plak...di bagian pinggangnya. Dia mengira itu suara dari tulang pinggangnya yang meregang. Merasa ada banyak air yang keluar tanpa bisa ditahan, baru disadari bahwa itu adalah air ketuban. Segera dia meloncat dari tempat tidur agar tidak membasahi tempat tidur.
Saya segera bonceng istri ke Klinik Anugerah di Jalan Gunung Sanghyang, tempat biasa kami periksa dan merencanakan untuk water birth di sana. Tak lupa kami membawa tas persiapan melahirkan yang sudah kami siapkan isinya sebelumnya. Sampai di klinik, perawat mengatakan bahwa sudah bukaan 2, istri pun disuruh berbaring menunggu perkembangan selanjutnya. Saya segera kirim SMS ke teman-teman, mengabarkan bahwa kami sudah di Klinik dan mohon doa supaya persalinan berjalan lancar. Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Bli Nyoman yang bertugas di RS Polda Lampung kirim SMS bahwa rata-rata pertambahan bukaan terjadi tiap 4 jam. Rasa sakit dan kontraksi makin sering terjadi, yang awalnya tiap 30 menit, makin cepat menjadi tiap 15 menit. Beberapa kali dicek, masih juga bukaan 2. Setelah 4 jam atau jam 19 wita, baru bukaan 3. Wahh....lama sekali. Kasian sekali melihat istri menahan rasa sakit yang makin keras dan makin pendek jeda waktunya, tapi intervalnya makin panjang. Istri berusaha tidak teriak-teriak untuk menjaga tenaganya, untuk saat mengeden nanti.
Hari makin malam. Banyak juga sodara dan teman-teman yang datang, memberikan support dan doanya. Pertambahan bukaanya sangat lambat. Kami masih di ruang melahirkan biasa. Kata suster jaga, jika sudah bukaan 5 baru boleh masuk kolam Water Birth. Sekitar pukul 22 wita baru bukaan 4. Mungkin karena kasihan juga, suster mengijinkan kami ke tempat kolam water birth. Akhirnya sekitar pukul 23 istri sudah masuk ke kolam air hangat Water Birth. Katanya jika sudah masuk ke air, akan jadi lebih rileks, pertambahan bukaan akan lebih cepat dan akan lebih mudah melahirkan. Tapi istri saya masih juga kesakitan dan sampai jam 01 wita baru bukaan 6.
Akhirnya istri menyerah karena sudah kelelahan menahan sakit. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya kami memutuskan untuk operasi Caesar saja. Suster dan dokter segera menyiapkan kepindahan kami ke RS Puri Bunda. Ambulan segera tiba dan dengan kecepatan tinggi, didukung oleh kondisi jalan yang cukup lengang karena sudah tengah malam. Istri segera dibawa ke ruang operasi. Saya diminta oleh perawat untuk menunggu di luar saja, padahal saya sudah menyiapkan handycam saat itu. Di ruang tunggu, sambil menahan rasa cemas, ada juga seorang bapak setengah baya mengajak ngobrol, yang juga sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
Sekitar jam 02:15 wita, suster menyampaikan bahwa anak saya sudah lahir...seorang anak laki-laki yang sehat dan sempurna. Wah lega rasanya. Saya diizinkan untuk melihat si bayi. Sambil terkesima, saya sempat untuk mengambil videonya. Setelah keluar ruangan, saya baru sadar bahwa saya belum membisikkan Mantra Gayatri di telinganya. Kembali saya minta izin masuk ke ruang bayi dan saya bisikkan Mantra Gayatri dan mantra-mantra yang saya ketahui di kedua telinganya. Semoga engkau menjadi anak Suputra...:)
No comments:
Post a Comment