Sudah 7 bulan lebih usia kehamilan istri saya, tiba saatnya saya untuk melaksanakan Upacara Magedong-gedongan. Setelah minta petunjuk pada Bapak dan Ibu, mereka memilihkan hari baik pada Kamis, 23 Juli 2009. Ibu saya membeli bantennya di Mbok Men Yunik, karena Ibu sangat sibuk karena hari Rabu sebelumnya upacara Odalan di Pura Dadia Pasek Kayu Selem di Batubidak, Kerobakan. Ibu sudah ngayah (bergotong royong) menyiapkan upcara Odalan tersebut mulai hari Minggu 19 Juli 2009.
Hari Kamis itu, ada anggota banjar yang meninggal, dan masih ada hubungan keluarga jauh juga. Karena saya harus tetap ngantor, terpaksa Bapak dan Ibu yang ngayahan banjar, sampai upacara penguburan sorenya. Sejak pagi hari suasana mendung dan pada siang harinya turun hujan cukup deras. Saya mulai was-was, bisakah upacara Magedong-gedongan ini tetap kami laksanakan di Sanggah di rumah?
Sore hari, hujan mulai mereda. Sepulang kerja, tukang banten dan keluarga saya sudah sibuk menata banten di Sanggah. Istri sudah siap dengan pakaian sembahyang, saya pun segera berkemas. Sekitar pukul 18 wita, kita memulai upacara yang dipimpin oleh Jero Mangku, hujan gerimis mengiringi hampir sepanjang upacara. Namun upacar tetap bisa kita laksanakan dengan khusuk.
Monday, 27 July 2009
Upacara "Magedong-gedongan", 23 Juli 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)