Pada saat awal mengetahui istri hamil, saya mencari-cari di internet, apa saja upacara untuk bayi dalam kandungan bagi umat Hindi Bali, khususnya. Umumnya kita hanya akan temukan informasi tentang upacara Magedong-gedongan. Saya coba cari ke toko buku, memang ada buku tentang hal itu, buku tipis, hanya berisikan tentang Magedong-gedongan, malukat, seputar itu saja. Saya makin bertanya-tanya dalam hati, apakah hanya ini saja upacaranya? Di internet memang ada beberapa upacara lainnya versi Hindu di India, tapi kami ingin menggunakan upacara versi Hindu di Bali, secara kami ini orang Bali.
Saat itu, kebetulan kakak sepupu saya, Bli Nyoman Merta, sedang pulang dari tugasnya ngajar di Karangasem. Saya tanyakan hal ini padanya, jawabnya, "Lho...kebetulan tesis saya waktu kuliah S2 di UNHI kan tentang itu. Coba saya cari dulu tesis itu". Syukurnya tesis itu bisa ditemukan dengan cepat, masih tersimpan rapi. Wah senang rasanya, dapat sumber referensi yang lengkap tentang upacara bayi dalam kandungan. Tesis itu sendiri berjudul: "Pendidikan Prenatal Menurut Teologi Hindu dan Implementasinya Pada Masyarakat Hindu di Karangasem". Sebagai sebuah tesis, tentu ia punya sumber referensi yang valid dan isinya sudah diuji dalam sidang tesis. Terus terang menurut saya ini informasi yang penting bagi kita semua, untuk menciptakan anak yang Suputra, dan perlu disampaikan seluas-luasnya kepada umat kita. Untuk itu, Bab IV dan V dari tesis itu, yang berisi bagian upacara dan maknanya, telah saya copy perbanyak dan dijilid rapi. Jika Anda menginginkannya, silakan kirim imel ke: ketutadic@yahoo.com, dengan hanya mengganti ongkos copy Rp 15,000, diluar ongkos kirim.
Upacara pertama yang harus dilakukan adalah Upacara Pengandeg, saat kandungan berumur 3 hari, 12 hari, 42 hari. Di India upacara ini disebut dengan Garbhalambana. Cuman susahnya, gimana cara kita tahu, kapan tepatnya terjadi pembuahan?? Saya tanya ke beberapa sumber pun, mereka tak bisa menjawabnya. Sedangkan umumnya seorang ibu tahu dirinya hamil setelah tidak datanya haid, sekitar 14 hari setelah pembuahan. Bahkan dari hasil test kehamilan, setelah 14 hari sejak pembuahan baru kita bisa tahu positif hamil atau hanya sekedar terlambat haid saja. Sampai sekarang saya masih bingung, bagaimana yang membuat aturan upacara ini bisa tahu 3 atau 12 hari setelah pembuahan?? Akhirnya kami hanya bisa melakukannya saat kandungan berusia 42 hari (bulan pitung dina).
Menurut perkiraan bahwa pembuahan terjadi pada tanggal 10 Desember 2008, setelah kami hitung, usia kandungan 42 hari jatuh pada 21 Januari 2009. Ini baru kami sadari 2 hari sebelumnya, weleh... Berdasarkan Lontar Bregu Tattwa, banten/upakaranya adalah Sesayut Jiwa Sampurna, Peras panyeneng, Pengambean, kecap mandi, Prayascita Suka Luwih. Saya tanyakan pada Ibu, beliau tak tahu tentang Sesayut Jiwa Sampurna dan Kecap Mandi. Waduh... Akhirnya kita minta bantuan ke Mbok Men Yunik, yang sudah pernah mengikuti kursus membuat banten. Dia juga bilang belum pernah membuat banten seperti ini, tapi akan berusaha mencari-cari dari literatur yang dipunyainya. Tambah lagi tgl 21 Januari 2009 akan ada peresmian Matahari Educares, yang dibuat oleh Ayu bersama Dewi (adiknya) dan Mbok Yuli (temen kuliahnya di India). Sedangkan beberapa hari sebelumnya saya dan Ayu sibuk di Jln Kembang Matahari tersebut menyiapkan segala sesuatunya, untuk upacara peresmian.
Rabu, 21 Januari 2009,
Wednesday, 1 April 2009
Upacara "Pengandeg", 21 Januari 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)